Pin It

17 January 2016

Menelusuri Sejarah Sarinah, Toserba Pertama di Asia Tenggara Dari Buku Sarinah Karya Bung Karno

Buku “Sarinah” karya Bung Karno selesai cetak pada November 1947. Bagi Soekarno, pemahaman soal perjuangan perempuan tidak bisa dianggap enteng. Beliau jengkel kepada mereka yang mengabaikan pentingnya membahas persoalan perempuan. Soekarno bilang, “kita tidak dapat menyusun negara dan tidak dapat menyusun masyarakat, jika (antara lain) kita tidak mengerti soal-soal wanita.” Sebab, bagi Soekarno, soal wanita adalah soal masyarakat. Dan saya sudah membaca buku “Sarinah” itu, sangat menarik karena ada asal usul pusat perbelanjaan Sarinah di jl MH Thamrin Jakarta.



Dalam konteks Indonesia, Soekarno soekarno menganggap gerakan perempuan sebagai aspek penting bagi kemenangan revolusi menuju sosialisme. Ia mengutip pendapat Lenin: “Jikalau tidak dengan mereka (wanita), kemenangan tidak mungkin kita capai.” maka di bangunlah Sarinah (wanita yang merawat Bung Karno) yang mulai dibangun sejak tahun 1963. Pada saat peletakan batu pertamanya yang menuai kritik dari berbagai pihak, Soekarno menyatakan, “janganlah ada satu manusia yang mengira bahwa Sarinah adalah proyek lux. Sama sekali tidak”. Hal ini menegaskan keinginan Soekarno untuk membangun sebuah pusat perbelanjaan yang baik bagi rakyat jelata dengan menyediakan barang-barang dengan harga yang murah namun bermutu bagus.

Lebih jauh lagi, Sarinah dibangun oleh Soekarno atas kecintaannya pada sosok perempuan yang mengasuhnya sejak kecil dan mengajarkannya tentang cinta kasih bernama Sarinah. Mbok Sarinah, begitu panggilan Soekarno pada perempuan yang membantu ibu bapaknya mengasuhnya sejak kecil mengatakan, “Sarinah mendidik mengerti bahwa segala sesuatu di negeri ini tergantung daripada rakyat jelata”. Untuk itulah Soekarno membangun pusat perbelanjaan Sarinah.

Selain sebagai alat distribusi legal, sebagaimana dijelaskan Sukarno, fungsi dari department store untuk menurunkan dan menekan harga. Sebagai “prijs stabilisator,” katanya. Sehingga orang di luar departemen store tersebut tidak berani menjual harga lebih tinggi. “Kalau di department store harganya cuma lima puluh rupiah, di luar departement store, orang tidak berani menjual seratus rupiah.”

Sukarno juga mengingatkan bahwa barang yang dijual department store tersebut harus barang berdikari. Barang bikinan Indonesia. “Yang boleh impor hanya 40%. Tidak boleh lebih. 60% mesti barang kita sendiri. Jual-lah di situ kerupuk udang bikinan sendiri. Jual-lah di situ potlot kita sendiri,” kata dia mewanti-wanti.

Maka Soekarno menugaskan R. Soeharto, Menteri Muda Perindustrian Rakyat sekaligus dokter pribadinya mewujudkan pembangunan Sarinah. Soeharto menjadi presiden direktur PT Department Store Sarinah.

Menurut Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah, pembangunan Sarinah tidak luput dari tentangan karena dianggap sebagai proyek mercusuar.

“Jangan terlalu menghiraukan kecaman itu,” kata Sukarno. “Sarinah harus merupakan pusat sales promotion barang-barang produksi dalam negeri, terutama hasil pertanian dan perindustrian rakyat. Bangunannya dirancang dengan bantuan arsitek Abel Sorensen dari Denmark, dibangun oleh kontraktor Jepang, dan pembiayaannya dari rampasan perang Jepang.”

“Kalau Sarinah di Thamrin itu sukses, untuk Jakarta saya perintahkan buat tiga lagi. Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur. Another there, my dear friends, another three. Department Store Sarinah itu,” kata Sukarno.

Pada 15 Agustus 1966, Sukarno meresmikan Sarinah yang berlantai 14, sekaligus menandai lahirnya toko serba ada pertama di Asia Tenggara. “Ketika Singapura belum dibangun dan Kuala Lumpur masih rawa-rawa, Jakarta mulai berbenah membangun department store pertama: Sarinah,” tulis Eka Budianta dalam biografi Cakrawala Roosseno. Roosseno adalah arsitek yang terlibat dalam pembangunan Sarinah.

Sumber: Dari Sini
Next
« Prev Post
Previous
Next Post »

Terima Kasih